Journey to Taiwan: journey to found my freedom…
Teologi di semua belahan bumi (misalnya: Lutheran, calvinis, Presbyter, Kharismatik) nyaris seragam, hampir tidak pernah berubah. Teologi klasik mendoktrin bahwa yang berada dalam struktur kalsik adalah kebenaran, diluarnya sebuah kesalahan. Menyembah Tuhan dan melakukan perintahNya adalah kewajiban. Terjadi pengkotak-kotakan dan klasifikasi dalam struktur dan Gereja adalah ”home” (tempat untuk berteologi).
Sedangkan Critical Feminist Theology for Transformation melakukan hal sebaliknya: bagaimana mengubah cara pandang, bahwa kebenaran bukan paket dari pengetahuan, melainkan sesuatu yang harus dicari, sampai menemukan bagian dari kebenaran itu secara bersama-sama. Teologi bukanlah sesuatu yg sudah jadi, melainkan sebuah proses mencari kebenaran sampai akhirnya menemukan bersama cara bersikap, cara berelasi.
Introduction
Meski dilahirkan dan dibesarkan dalam nuansa kultur Cina yang kental di Pematangsiantar, namun sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa suatu saat aku boleh menjejakkan kaki di Taiwan – Negeri leluhur bangsa Cina. Memang sejak kecil aku sudah sering mendengar cerita para tetanggaku yang kupanggil sebagai “A Ma”, “A Kong”, “A’i”, “A Chek”, “Shuk Me”, “A Pek”, “Cici”, “Koko”, “A Kim”, “A Kho” sepulangnya mereka dari perjalanan ke negeri leluhur mereka. Tidak jarang pula aku menikmati makanan khas yang mereka bawa sebagai buah tangan.
Tatkala mendengar mereka bercerita, aku hanya mengibaratkan perasaan mereka sebagaimana perasaanku ketika mengunjungi Sihubakhubak, kampung leluhur Ompungku di Porsea: meski bukan sebuah keharusan, namun tidak juga ada istimewanya, pikirku. Karena itulah, mengunjungi Taiwan tidak pernah menjadi programku sebelumnya.
Journey Background
Betapa beruntungnya aku mengenal dan menjadi sahabat dari Yong Ting Jin, yang menjadi coordinator dari organisasi AWRC – ASIAN WOMEN’S RESOURCE CENTRE (for culture and theology), yang berpusat di Malaysia. Berkat Ting Jin pula aku dan Pdt. Debora Purada Sinaga, MTh boleh berada di Taiwan untuk mengikuti ORIENTASI dan WORKSHOP: Young Women Doing Critical Feminist Theology of Liberation in Asia yang mengambil Thema: Life Stories in the Tension Between Power and Empowerment. Orientasi dan Workshop ini terselenggara berkat kerjasama ASIAN WOMEN’S RESOURCE CENTRE (for culture and theology) dengan Tainan Theological College and Seminary (TTCS – Taiwan).
Sebenarnya ini merupakan Workshop kedua, sebagai lanjutan dari Workshop pertama “YWDT pre-gathering and Joint History workshop” yang telah dilaksanakan tahun 2006 yang lalu di Kuala Lumpur. The 2nd Workshop ini dihadiri oleh 31 orang perempuan Kristen Muda dari berbagai negara di Asia. Kebanyakan dari mereka adalah anggota dari “Young Women Doing Theology” Network. Dari judul organisasinya terindikasi bahwa perempuan-perempuan itu berlatar belakang pendidikan Theology, meski bukan semua mereka menerima Tahbisan (Ordined). Tujuh diantaranya adalah Perempuan Indonesia yang berpendidikan Theology, yang bekerja sebagai Pendeta, aktivis perempuan, NGO, dan sebaginya.
Tainan Theologica College and Seminary
Alumni House, Tainan Theological College and Seminary, yang terletak di 117 Tungmen Road, Section 1 menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan Workshop. Seminary ini merupakan seminary Kristen tertua di Taiwan, berdiri tahun 1876. Shoki-Coe adalah “founding father” (pendirinya). Saat ini Rektor Seminary ini (boleh dihilangkan untuk menghindari repetisi) dijabat oleh Dr Huang Po Ho.
Seminary ini juga sudah bebas dari bias jender, sangat familiar dengan Theologia Feminis. Hal ini terasa dari begitu banyaknya perempuan yang sudah masuk dalam jajaran pimpinan di Campus ini. Mayoritas mahasiswanya juga adalah perempuan. Ternyata perempuan di Cina sudah lebih modern dari perempuan Cina di Indonesia yang masih sering mengalami diskriminasi dari orangtuanya dalam hal pendidikan – seperti yang kulihat di lingkungan tempat aku dibesarkan.
Kesan pertama yang kurasakan ketika menginjakkan kaki di Seminary ini sangat berbeda. Bangunan yang sebenarnya tidak terlalu baru, namun sangat rapi, bersih dan asri membuatku terhenyak sejenak. Bangunan berlantai 4 ini sangat modern dan terawat, sangat berbeda dari model Asrama seminary pada umumnya di Indonesia. Asrama ini memiliki kamar tidur full AC dilengkapi Springbed, dengan kamar mandi yang dilengkapi fasilitas water heater. Tiap kamar juga dilengkapi dengan access internet kecepatan tinggi secara gratis selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, namun harus dengan menggunakan Laptop sendiri (Jika tidak memiliki, boleh juga memakai fasilitas internet di Perpustakaan Seminary). Di lantai 4 ada ruangan cuci – seterika dengan fasilitas mesin cuci, di mana masing-masing penghuni boleh melakukannya sendiri. Air minum juga diperoleh dengan system osmosis, sangat higienis. (Aku sampai berkhayal…. Kapan kiranya keadaan Asrama STT – HKBP, tempat di mana aku pernah tinggal saat menjadi mahasiswa berubah menjadi seperti TTCS. Semoga suatu saat…….).
Lingkungan Seminary yang sangat teduh dan asri didukung oleh banyaknya pohon-pohonan. Yang paling banyak adalah pohon Longan (klengkeng). Bulan Juli – Agustus adalah musim berbuah. Aku sedikit iri, karena di Indonesia buah Longan lumayan mahal, padahal di kompleks Seminary ini dibiarkan berceceran di tanah bahkan sampai membusuk karena banyaknya buahnya yang tidak dikumpulkan. Mungkin juga karena para Mahasiswa/i-nya sudah bosan menikmatinya.
Terkenang aku saat masih study di STT-HKBP, situasinya sangat berbeda karena buah kelapa di pekarangan seminary, bahkan tidak jarang buah mangga dan jambu di pekarangan rumah para Dosen “hilang” dari pohonnya sebelum waktunya.…. Hahaha…..
Materi Workshop
Sesuai dengan Tema yang diusung 2nd Workshop ini: Life Stories in the Tension Between Power and Empowerment, percakapan dalam workshop ini juga tidak jauh dari kisah hidup pesertanya yang seluruhnya adalah perempuan.. Dalam Workshop ini kami dibimbing oleh Lieve I. Throch, Theolog Feminist berkebangsaan Belgia yang menetap di Belanda. Dia menuntun kami belajar ”Feminist Critical Theology for Liberation”, bukan hanya Teologi atau sekedar Teologi Feminis semata. Metodenya dengan melakukan alisis Alkitab, melihat Alkitab secara kritis, dan bagaimana perempuan setuju dengan otoritas atau power, di mana power bisa menindas sekaligus membebaskan.
Sebagaimana kita ketahui, dalam pengalaman bergereja dan ber-Tuhan, “Tuhan” Protestan adalah Alkitab, sedangkan bagi Katolik telah didoktrin setuju dengan Otoritas, karena Gereja hanya merupakan lapis otoritas tertentu. Bagi Katolik “Tuhan” adalah Hirarki (Paus, Uskup, Pastor).
Metodologi Critical Feminist Theology for Liberation bisa dipakai di tingkatan Sistematik Teologi, Biblical Teologi/hermeneutik, Church History, Etika, dsb. Otoritas agama seringkali dipakai untuk menindas. Ada aturan tertentu atau ajaran tertentu yang berlaku dalam masyarakat, tetapi agama merupakan lapis tertentu yang tidak bisa digugat. Agama dipakai untuk melegitimasi aturan atau ajaran tertentu. Misal: dengan menyebut Alkitab sebagai Kitab Suci, kita tidak bisa mengkritisinya, karena dianggap ”Suci”. Demikian halnya dengan menyebut Paus sebagai orang Suci, otoritasnya tidak boleh digugat.
Peserta adalah perempuan yang hampir seluruhnya berpendidikan Theologi (3 orang dari 4 peserta yang berasal dari India, meski baru berusia 29-37 tahun sudah menyelesaikan pendidikan Doktoral Theologia dan berprofesi sebagai Dosen di seminary; beberapa perempuan muda Taiwan juga sedang study Doktoral Theologi di TTCS – keadaan dan kenyataan ini sangat berbeda dari kondisi yang dialami oleh Perempuan Pendeta di HKBP). Dari pengalaman studi Teologi, ternyata dididik dalam Teologi klasik: berarti terstruktur dan siap pakai, lengkap dengan konsep dan ide-ide para ”Teolog besar” sebelumnya, cara membaca Alkitab dan menafsir dengan bank system, tinggal menyerap, mereproduksi dan menerapkan, para Dosen adalah Guru, mahasiswa Teologia wajib belajar, waktu dan tempat tidak berpengaruh. Teologi di semua belahan bumi (misalnya: Lutheran, calvinis, Presbyter, Kharismatik) nyaris seragam, hampir tidak pernah berubah.
Teologi klasik mendoktrin bahwa yang berada dalam struktur kalsik adalah kebenaran, diluarnya sebuah kesalahan. Menyembah Tuhan dan melakukan perintahNya adalah kewajiban. Terjadi pengkotak-kotakan dan klasifikasi dalam struktur dan Gereja adalah ”home” (tempat untuk berteologi).
Sedangkan Critical Feminist Theology for Transformation melakukan hal sebaliknya: bagaimana mengubah cara pandang, bahwa kebenaran bukan paket dari pengetahuan, melainkan sesuatu yang harus dicari, sampai menemukan bagian dari kebenaran itu secara bersama-sama. Teologi bukanlah sesuatu yg sudah jadi, melainkan sebuah proses mencari kebenaran sampai akhirnya menemukan bersama cara bersikap, cara berelasi. Allah bukan satu-satunya yang resesif bagi kita.
Penting untuk menemukan gambaran tentang ”Hero” (Pahlawan), karena biasanya hero menjadi konsep yang sangat hirarki. Namun Hero sesungguhnya adalah orang-orang yang berperan dan menginspirasi. Sehingga dalam Critical Feminist Theologi for Transformation yang dilakukan adalah ”Transform the God, Transform the reality and the “journey” is home”. Berteologi adalah berproses, bukan hanya belajar dari buku. Dalam rangka membentuk ulang teologi tidak ada satupun dari kita yang lebih tahu dari yang lain, tapi kita bisa saling membantu dalam prosesnya, saling mengingatkan.
Peserta Workshop diberi pelatihan untuk membedakan antara tantangan untuk berpikir dan konflik personal. Dengan mampu mengatasi perbedaan, maka manusia bisa hidup bersama dalam perbedaan, sekaligus mematahkan dalil yang terjadi di kehidupan sehari-hari, yg menyatakan bahwa perbedaan merupakan sumber konflik. Budaya, agama, identitas diri, dll adalah lapisan-lapisan yang harus dikupas, dalam rangka menemukan cara bersikap bersama. Dalam proses ini mungkin kita akan bingung apa yang kita lakukan, apa yang terjadi dan merasa dunia jungkir balik. Dengan tidak mengambil beban lebih dari kemampuan, hal ini bisa diatasi.
Teologi menjadi sesuatu yang menakutkan, tapi sekaligus bisa membebaskan. Alkitab bisa menjadi inspirasi, membebaskan tapi juga menindas. Ada relasi ganda antara kita dengan Alkitab. Karena itu perlu membangun Cara yang Kritis dalam Teologi.
Peserta juga diperkenalkan dengan istilah ”The Journey is Home”, yang digagas oleh feminist Amerika, Nella Morton. Biasanya “journey” disebut sebagai “meninggalkan dan pulang ke rumah”. Namun dengan mengatakan “the journey is home” berarti kita akan selalu dalam “journey”, jangan berpikir untuk kembali karena tidak ada jalan kembali. Meski dalam proses kita tidak tahu dimana kita berhenti, namun kita mesti membuat sesuatu yang baru dan mencari bersama. Dalam proses “journey” juga dipakai metode “the dance of liberation and transformation” yang diperkenalkan oleh Theolog Feminist Elizabeth Schusller Fiorenza dari bukunya “in memory of Her” (terjemahannya diterbitkan oleh BPK – Gunung Mulia dengan judul “untuk mengenang perempuan itu”).
Dengan mengingat bahwa dalam kurun waktu 30-40 tahun terakhir ini terjadi perkembangan pesat Teologi yang memunculkan beragam Teologi, Critical Feminist Teologi adalah salah satu cara berteologi yang berbeda. Sejak tahun 1960-an terjadi perubahan paradigma dalam teologi dengan munculnya Teologi baru, termasuk didalamnya Teologi Kontekstual dan Teologi Global.
Sejak tahun 1940-1960 banyak Negara terkolonisasi merdeka dan mulai mencari identitas mereka sendiri. Proses kemerdekaan ini membuat para penjajah kembali ke negaranya, yang mendorong Negara yang baru berkembang menemukan identitas Nasional mereka. Bersamaan dengan itu para misionaris kembali ke negaranya, dan bermunculan Pastor lokal. Teolog yang belajar teologi di Barat mulai mengembangkan Teologi Politis, mempertanyakan bagaimana mungkin untuk tidak protes atas tindakan para kolonial. Mereka menyerukan bahwa sebagai teolog perlu menjadi lebih politis, berpihak pada korban, tidak menjadi kaum borjuis (berpikir mapan, tidak melihat ada masalah dalam pembunuhan, sangat rasional). Saat itu Teolog Amerika Latin, Afrika, dll yang menjadi murid di Teologi Barat kembali ke negaranya melihat realita yang sangat berbeda. Maka mereka menyatakan bahwa kita perlu punya posisi politik tertentu. Di Amerika Latin ada :Gustavo Guitires, Leonardo Boff, Mijouri; di Asia ada: Aloysius Pieris, Tisa Balasurya, Rayan, MM.Thomas, Kim Yong Bok. Mereka mulai membangun Teologi Konstektual dan Teologi Pembebasan. Teologi dari Barat adalah Teologi untuk orang kaya. Kita butuh teologi untuk orang miskin supaya mereka bisa memerdekakan diri sendiri.
Teologi Klasik bukan Teologi Universal tapi “Western capitalist colonial Theology”. Tempat dan waktu menjadi sesuatu yang penting dalam Teologi. Setiap konteks, situasi dan waktu berbeda, karenanya Teologi yang dibangun juga berbeda, sebab teologi harus berakar pada realitas dan menjawab persoalan realitas. Inilah yang disebut Teologi Kontekstual. Teologi konstekstual mempunyai metodologi yang berbeda dengan Teologi Klasik. Analisis realita menjadi langkah pertama, kemudian kritik terhadap realita dan teologi, kemudian membangun teologi yang baru. Metodologinya sungguh berbeda. Yang Klasik dari atas ke bawah, yg kontekstual berakar dari realita.
Liberation Teologi adalah bentuk lain dari Contextual Theology, tapi melakukan lebih. Langkah-langkah dalam metodologi di Liberation Theology adalah diskusi untuk membuat konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi. Asumsinya bahwa semua Theology adalah hasil konstruksi. Kemudian didekonstruksi dan akhirnya direkonstruksi. Tiga langkah metodologi ini dipakai juga dalam feminist teologi.
Teologi Pembebasan membuka topeng Clasic Theology yang “white western middle class and male Theology”. Subject dalam Teologi Pembebasan menggunakan metodologi ini untuk membuka topeng Teologi Klasik ini. Namun tidak semua Teologi Kontekstual merupakan Teologi Pembebasan. Bisa saja Teologi Indonesia misalnya, bisa jadi sangat “male Theology”. Teologi Kontekstual bisa jadi Cultural Theology, tapi tidak selalu membebaskan, bahkan kadang menindas. Karena ada budaya tertentu yang sangat menindas.
Karenanya perlu hati-hati: jangan sampai mencampuradukkan antara Teologi Kultural (inkulturasi) dengan Teologi pembebasan. Ada juga Teologi Kultural yang justru lebih konservatif dari Teologi Barat. Dalam teologi Barat yang sangat rasional – masih dimungkinkan adanya perdebatan, sedangkan Budaya terkadang tidak bisa diperdebatkan, karena itu perlu dikritisi. Kritik terhadap teologi seperti ini dimulai dari Teologi Pembebasan.
Teologi Pembebasan mempertanyakan siapa yang dirugikan? Siapa yang termasuk di dalamnya? Siapa yang diuntungkan?
Cukup lama Teologi Pembebasan selalu bicara soal perubahan struktur. Ini hanya menjadi isu kelas menengah, sedangkan orang miskin sendiri tidak melihat banyak perubahan, mereka harus berpikir dan bertindak. Agama tidak pernah menjadi pemecah masalah orang. Karena itu Teolog Feminis harus selalu berelasi dengan perempuan lain, tidak bisa hanya sendiri buat teori dan tulisan. Kita harus bekerja bersama perempuan, membuat perubahan dan melihat apakah berhasil membuat perubahan.
Dulu, para Teolog Feminis harus belajar semua teologi klasik dulu baru bisa membuat Teologi sendiri. Teolog Feminis menghadapi dilema, di satu kaki berada di dunia perjuangan, dan di kaki yang satu lagi di dunia akademisi. Male teologi berusaha mengontrol Allah sebagaimana Gereja mengontrol Allah dengan mengatakan apa yang “bias” dan “tidak bias”. Hanya sengan menyadari bahwa manusia telah mengontrol Allah maka cara hidup dan cara pandang bisa berubah. Yang harus dirpikirkan adalah bagaimana berteologi tanpa mengontrol Yang Ilahi, dunia dan orang lain. Untuk itu harus diciptakan sesuatu yang berbeda.
Selalu ada situasi ganda: Alkitab, Gereja bisa menindas tapi juga bisa juga membebaskan. Ciri-ciri yang dimiliki oleh Institusi-institusi agama, diantaranya: Alkitabnya ditulis oleh laki-laki, diinterpretasi oleh laki-laki, Pemimpin agamanya atau pendirinya adalah laki-laki, Mediatornya adalah laki-laki, Setan diproyeksikan sebagai perempuan dan di dalam tubuh perempuan (ada yang salah dalam tubuh perempuan sehingga kita tidak bisa merepresentasikan diri sebagai mediator), laki-laki harus berhati-hati terhadap perempuan karena dianggap berbahaya, perempuan harus mendekati laki-laki untuk bisa sampai ke Allah, merendahkan agama-agama yang tidak terinstitusi (padahal terkadang justru dalam agama non institusional ditemukan figur Allah Feminim).
Makin monotheistik suatu agama, seringkali justru semakin memaksa dan eksklusif. Rasionalitas memang baik karena memungkinkan untuk mendiskusikan masalah. Persoalannya adalah: rasionalitas siapa yang digunakan? Dengan rasionalitas bisa dibangun visi, namun hendaklah terbangun visi yang bisa memvisiblekan, menghargai dan merangkul.
Perempuan kerap mengalami pengalaman negatif, seperti: Invisible di dalam gereja, masyarakat, Alkitab; excluded di dalam gereja, masyarakat, alkitab; diidentifikasi sebagai evil dan dipersalahkan; tidak pernah boleh memandang dirinya sendiri, dunia, dan yang Ilahi dari kaca mata perempuan, melainkan dibiasakan untuk melihat dirinya dari kaca mata laki-laki (apa yang seharusnya terjadi pada perempuan dinilai dari mata laki-laki; misalnya: tentang konsep kecantikan maupun karya seni di jaman dulu); terlalu banyak lapisan yang membungkus sehingga sulit untuk bisa merepresentasikan dirinya sendiri dan bagaimana seharusnya perempuan.
Namun tidak cukup hanya mengekspresikan pengalaman sebagai perempuan tapi juga mesti menganalisanya. Sehingga tidak cukup hanya membuat konsep Feminine Theology, Female Theology, gender Theology, women’s Theology, karena itu bukan jawaban akhir. Menggeluti konsep Feminine Theology, Female Theology, gender Theology, women’s Theology sama artinya dengan menjebakkan diri dalam Theologi Clasik, dan itu bukan tujuan dari “Critical Feminist Theology for Liberation and Transformation”.
Sebagai latihan untuk melakukan critical Analysis for Liberation and Transformation kami melakukan Penelaahan Alkitab. Beberapa Nats yang sempat dibahas di antaranya: Kejadian 38:1-30; Matius 20:1-16; Markus 5:21-43; Lukas 4:16-22; Lukas 10:38-42; 1 Korintus 12:12-31; 1 Timotius 2:3-15; 1 Timotius 3:2-12.
Jujur saja, aku sungguh-sungguh terbelalak melihat kenyataan betapa berbedanya pemahaman terhadap Nats yang kuperoleh dari metode critical analysis jika dibandingkan dengan metode teologi klasik yang kupergunakan selama 15 tahun sejak berada di Seminary Teologia dalam melakukan interpretasi terhadap nats Alkitab. Ini modal awal bagiku untuk merubah paradigma dan mengkotbahkan Nats Alkitab sebagai berita yang membebaskan, menghargai dan merangkul.
Penutup
Waktu yang tersedia bagiku selama 10 hari di Taiwan terasa sangat singkat. Apalagi padatnya jadwal Orientasi dan workshop sangat membatasi kebebasan untuk city seighseeing. Namun itupun sudah sangat kusyukuri, karena apa yang tak pernah kupikirkan dan kubayangkan, telah kunikmati.
Karena begitu menariknya persekutuan bersama perempuan-perempuan muda berpendidikan Teologi yang tergabung dalam Young Women Doing Theology Networking, maka aku dan Pdt Debora Sinaga tidak ragu-ragu lagi mendaftar menjadi anggota penuh organisasi Asian Women Resource Centre yang menaungi YWDT Networking. Kami berdua adalah perempuan HKBP berpendidikan Teologi yang pertama menjadi anggotanya.
Semoga kehadiran kami di organisasi ini bisa memberi kontribusi bagi proses Critical Feminist Theology for Transformation and Liberation, untuk menjawab sebahagian dari pergumulan perempuan Batak yang berada dalam bayang-bayang Adat Budaya dan Interpretasi Alkitab yang sering kali melakukan kekerasan terhadap perempuan ditengah kehidupan sehari-hari maupun di dalam gereja. Semoga……….

Komentar Terakhir