Menjual Keperawanan

31 03 2009

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal.

Oleh : Paulina Sirait**

WANITA itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

SETELAH sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya: “Maaf, nona… Apakah anda sedang menunggu seseorang?”
“Tidak!”, jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
“Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
“Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.
“Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
“Maksud, bapak?”
“Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini”
“Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual”, kata wanita itu dengan suara lambat.
“Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini?”

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

“Okelah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti”.
“Saya ingin menjual diri saya”, kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

“Mari ikut saya”, Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya. Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu.

Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

DI KORIDOR hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

“Apakah anda serius?”
“Saya serius”, jawab wanita itu tegas.
“Berapa tarif yang anda minta?”
“Setinggi-tingginya”.
“Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
“Saya masih perawan”
“Perawan?” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri.

Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini, pikirnya.

“Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
“Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan, ya kan?”
“Kalau tidak terbukti?”
“Tidak usah bayar …..”
“Baiklah…” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
“Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda”.
“Cobalah….”
“Berapa tarif yang diminta?”
“Setinggi-tingginya.”
“Berapa?”
“Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa?”
“Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya”.

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
“Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”
“Ini termasuk yang tertinggi”, Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
“Saya ingin yang lebih tinggi…”
“Baiklah. Tunggu disini…”, petugas satpam itu berlalu.

TAK BERAPA LAMA petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

“Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”

“Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan? Kita sama-sama butuh…”
“Saya ingin tawaran tertinggi…”, jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat. “Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli”, kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

PINTU KAMAR hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

“Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat?”, kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu…
“Berapa?”, tanya pria itu kepada Wanita itu.
“Setinggi-tingginya”, jawab wanita itu dengan tegas.
“Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?”, kata pria itu kepada sang petugas satpam.
“Rp. 6 juta, tuan”
“Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam”.
Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
“Bagaimana?”, tanya pria itu.
“Saya ingin lebih tinggi lagi…”, kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.
“Bawa pergi wanita ini”, kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
“Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual?”
“Tentu!”
“Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu?”
“Saya minta yang lebih tinggi lagi…”

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

“Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya“.

DI LOBI HOTEL, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya.

Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

“Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah itu tidak cukup?”, terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika. “Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?!”

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu. Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: “Pak, apakah anda butuh wanita…???”

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
“Ada wanita yang duduk disana”, Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. “Benarkah itu?”
“Benar, pak”.
“Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu….”
“Dengan senang hati. Tapi, pak… Wanita itu minta harga setinggi tingginya”.
“Saya tidak peduli…”, Pria itu menjawab dengan tegas. Pria itu menyalami hangat wanita itu.
“Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah….”, kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
“Mari kita bicara di kamar saja”, kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar …
“Beritahu berapa harga yang kamu minta?”
“Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit”.
“Maksud kamu?”
“Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih….”
“Hanya itu…”
“Ya…!”

PRIA ITU memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal.

Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

“Siapa nama kamu?”
“Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar…”, kata wanita itu
“Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar”. “Kalau begitu, tidak ada kesepakatan!”
“Ada!”, kata pria itu seketika..
“Sebutkan!”
“Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini.
Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah…, kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
“Saya tidak mengerti…”

“Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar…”
“Dan, apakah bapak ikhlas…?”
“Apakah uang itu kurang?”
“Lebih dari cukup, pak…” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?”
“Silahkan…”

“Mengapa kamu begitu beraninya….”
“Siapa bilang saya berani. Saya takut pak….
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang ‘bodoh’ ….. Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan…”

“Keyakinan apa?”
“Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita…” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata: “Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini… ?
“Kesadaran…”, jawab laki-lakit itu.

DI SEBUAH rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
“Kamu sudah pulang, nak”
“Ya, bu…”
“Kemana saja kamu, nak….???”
“Menjual sesuatu, bu…”
“Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan.. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum…

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini.

Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan….” Kini saatnya ibu untuk berobat…”

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: “Tuhan telah membeli yang saya jual…”.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya.. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi: “Antar kami kerumah sakit…”

http://www.facebook.com/note.php?note_id=136528040150&ref=mf

**Penulis adalah pendeta HKBP, berdomisili di Pematang Siantar





FACING THE GIANT (MENGHADAPI “RAKSASA”)

17 09 2008

Beberapa bulan yang lalu aku berkesempatan menonton sebuah Film Drama rohani berjudul FACING THE GIANT dari VCD yang kupinjam dari seorang teman Pendeta. Sebelumnya dengan gencar teman Pendeta ini membujuk supaya aku mau menyempatkan waktu untuk menonton, karena menurutnya film ini mengharukan, menyentuh sisi lain dari spiritualitasnya sebagai manusia, bahkan sebagai seorang Pendeta, karena banyak hal berharga yang bisa dipelajari dari pengalaman pemeran utama Film itu. Demi menghargai niat baik teman, akupun menyimak ceritanya.

Film FACING THE GIANT bercerita tentang pengalaman seorang pelatih football sebuah SMU (High School). Selama 6 tahun melatih tim football-nya, tim asuhannya selalu gagal, belum sekalipun berhasil menjuarai pertandingan apapun. Kegagalan yang dialaminya makin disempurnakan oleh kenyataan yang dihadapinya dalam kehidupannya. Dia telah menikah beberapa tahun, namun belum bisa memiliki rumah yang layak, mobil yang layak bagi dia dan istrinya, serta tidak bisa memberikan keturunan bagi istrinya karena didiagnosa tidak subur oleh dokter. Istrinya sangat menginginkan kehadiran bayi dalam pernikahan mereka. Berkali-kali istrinya melakukan chek-up kehamilan ke Rumah sakit, namun hasilnya selalu “negatif” dan mengecewakan. Para perawat di Rumah sakit yang sudah sangat mengenal istrinya sampai meledek istrinya itu karena obsesinya untuk segera memiliki anak. Bukan sampai di situ saja, suatu ketika dia harus mendengar dengan telinganya sendiri pembicaraan para pengurus Yayasan di sekolah tempatnya bekerja, bahwa dirinya akan diberhentikan sebagai pelatih karena dianggap selalu gagal…..

Sang Pelatih menjadi sangat kecewa, frustrasi…. Hubungan dan komunikasinya dengan sang istri juga memburuk. Dia kemudian menghukum dan mempersalahkan dirinya sendiri atas semua kegagalan beruntun yang dihadapinya dalam hidupnya. Memang, sungguh sangat berat situasi yang dialami oleh pelatih football ini. Meski sebenarnya dia telah berjuang dan berusaha sebaik-baiknya dengan segala kemampuannya untuk melatih Timnya, namun hasilnya masih selalu jauh dari yang diharapkan bahkan lebih sering sangat mengecewakan hatinya…

Dalam rasa frustrasi yang dalam dia mengurung diri di rumah dan menghabiskan waktu dari hari-harinya dengan membaca dan membaca. Sering dia bahkan tidak bisa tidur atau terbangun tengah malam dan mulai membaca…., Sampai akhirnya tertidur kelelahan. Buku yang dibacanya adalah HOLLY BIBLE. Dari pembacaan Alkitab dia mengingat Tuhan, Allah yang ajaib, Gembala yang baik yang berkuasa…. Dia kemudian menemukan bahwa tujuan utama dalam hidup bukanlah target atau hasil yang bisa dicapai, tetapi bagaimana melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya – sebagai Ibadah kepada Tuhan. Paradigma dan pandangan hidupnya berubah drastis, bukan lagi ‘target oriented’ melainkan menjadi ‘process oriented’. Hari-harinya berubah. Dia menjadi lebih banyak berdoa dan berseru kepadaNYA. Dia menyerahkan segenap masalah dan pergumulannya dan mempertaruhkan hidupnya kepada Tuhan. Dan dengan Paradigma yang baru dia meminta agar pihak sekolah memberinya sekali lagi kesempatan melatih Tim. Pada awalnya pihak sekolah keberatan, namun akhirnya diputuskan untuk memberikan kesempatan terakhir.

Dan dengan paradigma yang baru pula sang pelatih melakukan pendekatan kepada tim asuhannya. Dia menjelaskan bahwa untuk segala hal yang utama bukan hasil, melainkan bagaimana cara yang dilakukan. Pada awalnya anggota Tim kebingungan, namun akhirnya mereka menikmati suasana latihan yang selalu diawali dengan doa. Mereka berlatih untuk menghadapi “TIM GIANT” yang sesuai dengan namanya terdiri dari orang yang besar-besar. Tim ini terkenal sangat tangguh dan sangat jarang terkalahkan. Melihat kesenjangan yang ada anggota Tim agak kecut. Tim football SMU ini melihat TIM GIANT – saingannya sebagai sesuatu yang menakutkan. Namun sang pelatih membangkitkan rasa percaya diri timnya dengan semboyan: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

Dengan prinsip inilah pada akhirnya Tim football sekolah berhasil mengalahkan Tim Giant, walau dengan pertandingan yang alot dan perjuangan yang keras. Salah seorang anggota Tim adalah putra pemimpin Yayasan Sekolah. Hubungannya dengan ayahnya sudah sejak lama tidak harmonis. Sang pelatih berhasil membantu memulihkan hubungan ayah-anak itu menjadi sangat harmonis – tentunya dengan paradigma yang berbeda – berdasarkan Firman Tuhan. Sebagai gantinya, dengan diam-diam pemimpin Yayasan Sekolah itu mengganti Mobil butut sang pelatih dengan mobil baru. Sementara itu istri sang pelatih yang untuk kesekian kalinya melakukan Chek-up kehamilan harus kecewa karena hasil test menyatakan dirinya belum hamil juga. Tepat di hari kemenangan Tim yang untuk pertema kalinya dalam kurun waktu 6 tahun berhasil menjadi juara menerima konfirmasi dari pihak Rumah sakit bahwa hasil “negatif” test kehamilan yang diterimanya sebagai sebuah kesalahan karena tertukar dengan pasien lain. Ketabahan istri dan kedekatan sang pelatih kepada Tuhan mengubah jalan hidupnya. Kisah hidup pasangan dalam film berakhir bahagia: karirnya sebagai pelatih akhirnya berhasil, mereka memiliki mobil yang bagus, rumah yang layak dan akan segera menimang anak yang sangat didambakan.

Menilik judulnya: Facing The Giant (kupahami sebagai “menghadapi Raksasa”), aku berfikir berkali-kali. Dari mana munculnya istilah “raksasa”? Kosa kata Ibrani menyebutnya sebagai Nefilim (Kejadian 6,4; Bil 13,33) atau Rapa’ (2 Sam 21,16.18.20.22 ; 1 Taw 20,4.6.8; 2 Sam 19 Dalam Kitab Kejadian 6:4 disebutkan Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. Kitab I Samuel 17 juga mengisahkan tentang Goliat, “raksasa” dengan tinggi 6 hasta sejengkal (1 hasta = 2 jengkal = 44,5 cm, 1 jengkal = 3 telapak tangan = 22,25cm; Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, YKBK/OMF hl 474; sehingga tinggi Goliat ± 290 cm). Wajar jika Goliat juga dikategorikan “Raksasa.

Kisah di atas bukan membahas manusia yang tinggi besar bagaikan raksasa, karena raksasa memang sudah tidak ada lagi di bumi ini – sehingga kita tidak perlu ketakutan bertemu dengan raksasa. Meski Alkitab melaporkan bahwa Daud pernah bertemu salah satu “raksasa kecil” yaitu si Goliat namun fisiknya tidak sebesar raksasa pada zaman sebelum Nuh (Kej 6:4). Kisah di atas mengingatkan kita bahwa dalam hidup ini, kita mungkin pernah mengalami hal yang mirip dengan yang dialami oleh “sang pelatih football”, meski tidak harus dengan bentuk yang persis sama. Artinya, pernah mengalami masalah, bahkan masalah besar, beruntun dan bertubi-tubi. Kita sampai ketakutan dan menganggap masalah itu sebagai “raksasa”.

Dalam keadaan yang baik-baik saja, kita bisa menjadi raksasa dalam kehidupan kita di mana seakan-akan masalah dapat kita hadapi semua dengan kekuatan sendiri. Sayangnya lebih sering kita merasa diri kita kecil dan tidak berdaya menghadapi raksasa kehidupan yaitu berbagai masalah serta pergumulan hidup sehingga seakan-akan kita merasa berhadapan dengan raksasa dan kemustahilanlah yang terpikir bagi kita untuk menghadapi bahkan mengalahkannya.

Tetapi jangan kuatir, karena apabila kita mendapati diri kita kerdil serta dikelilingi oleh raksasa-raksasa kehidupan, itu tanda Tuhan akan menjadikan hal itu menjadi pelajaran bagi kita untuk bersandar dan percaya padaNya atau mendewasakan kita. Daud telah memberi contoh bahwa dengan kekuatan Allah tidak ada yang mustahil, dengan batu kecil dan ketapel saja dia bisa mengalahkan Goliat dengan nama Allah Israel.

Olin-Sirait





PEREMPUAN: RIWAYATMU ..…..

26 07 2008

Pendahuluan

Entah kapan awalnya, namun sejarah penindasan dan kekerasan terhadap perempuan telah berlangsung sangat lama, tersebar merata di seluruh penjuru bumi. Kekerasan terhadap perempuan (KTP) dan kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) terjadi dimana-mana, baik di rumah tangga (ruang domestik) atau di tempat kerja, di berbagai institusi termasuk institusi agama, juga di tengah masyarakat luas (ruang publik). Sebenarnya KTP sudah ada sejak peradaban manusia. Namun sampai saat ini tindakan kekerasan itu masih lebih sering diartikan sebagai tindakan fisik semata, seperti pemukulan, pembunuhan atau perkosaan. Sehingga tindakan KTP dianggap hanya terjadi di rumah tangga atau masyarakat, sementara institusi agama seperti gereja sering dianggap sebagai institusi yang terlepas dari segala bentuk KTP. Banyak anggapan yang menyatakan bahwa adat istiadat dan budaya lokal sebagai satu-satunya sumber nilai-nilai yang diskriminatif terhadap perempuan dan penyebab terjadinya KTP. Sementara itu ajaran agama (Kristen) dianggap lebih mengajarkan kesamaan dan keadilan keberadaan laki-laki dan perempuan, artinya bebas dari nilai-nilai diskriminatif terhadap perempuan. Namun didalam kenyataan hidup berjemaat, terlihat beragam interpretasi terhadap ajaran Kristen atau ayat-ayat Alkitab yang justru menjadi dasar untuk tindakan diskriminatif dan kekerasan terhadap perempuan baik yang terselubung maupun yang terlihat nyata.

Memang, langkah-langkah dan gerakan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan telah dimulai sejak tahun 1970-an. Lembaga Dunia: Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah mengeluarkan Konvernsi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW) pada tahun 1979, yang tujuannya adalah menciptakan kesetaraan perempuan dan laki-laki. Pemerintah Indonesia menanggapi dengan mengeluarkan UU No. 7/ 1984, yang mensahkan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap permpuan. Gereja-gereja anggota Lutheran World Federation (LWF) menetapkan tahun 1988 – 1998 sebagai ”Ecumenical decade:Chuch in solidarity with women”. Pada tahun 1999-2001 Gereja anggota LWF melakukan kolaborasi dan membuat dokumen yang diberi nama: “Churchess say NO to violence against women” sebagai jawaban konkrit dalam gerakan bersama 10 tahun (decade) menentang kekerasan terhadap perempuan. Kemudian World Councill of Churchess (WCC) atau Dewan Gereja-gereja sedunia (DGD) menetapkan tahun 2001 – 2010 sebagai “Decade to overcome violence: seeking reconciliation and Peace”. Dan seperti tidak mau ketinggalan, Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pemberdayaan Perempuan, pada bulan September 2004 telah mengesahkan UU No. 23/2004 tentang Penghapusan kekerasan dalam Rumah tangga.

Namun dalam kenyataannya, meskipun Lembaga dunia, Gereja-gereja se-dunia dan Pemerintah Indonesia melakukan gerakan, sosialisasi dan penyuluhan mengenai penghapusan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan, dengan melibatkan seluruh elemen pemerintahan rohaniawan dan masyarakat, kualitas dan kuantitas kekerasan terhadap perempuan dalam kehidupan sehari-hari tidaklah surut, tetapi masih tetap terjadi bahkan dengan modus yang makin kompleks.

Mengapa harus perempuan sasaran kekerasan?

Dalam segala aspek kehidupan, masyarakat selalu lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan. Apalagi dalam masyarakat adat, perempuan tidak pernah diikutsertakan dalam pengambilan keputusan, peranan perempuan dalam adat hanyalah sebagai “parhobas” atau pelayan, sedangkan laki-laki adalah “parhata” atau juru bicara. Selain itu adanya stereotip bahwa perempuan itu adalah orang yang emosional atau tidak rasional, tidak mampu memimpin, perempuan itu penggoda laki-laki. Khusus untuk janda, pandangan negatif bukan hanya datang dari laki-laki tapi juga dari perempuan. Janda sering dianggap sebagai perempuan nakal yang kesepian dan suka mengganggu suami orang.

KTP dan KDRT dari hari ke hari mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini telah mengkhawatirkan karena ternyata banyak perempuan yang tidak menyadari dan memahami bahwa apa yang dialaminya merupakan tindakan kekerasan. Sebagaimana disinggung dalam pendahuluan tulisan ini, sebagian hal ini dipicu oleh interpretasi yang salah terhadap adat dan budaya di dunia yang mayoritas berlatar-belakang Patriarkhi. Dan dalam kenyataan hidup berjemaat ternyata ditemukan bahwa interpretasi yang keliru terhadap ayat-ayat Alkitab juga berpotensi menjadi elemen lainnya yang menyebabkan terjadinya KTP / KDRT.

a. Interpretasi terhadap Adat dan Budaya Batak

· Di kalangan masyarakat Batak telah mengakar persepsi bahwa perempuan itu “pardijabu” (orang rumah), yang bersumber dari sistem patriarkhat dalam masyarakat. Persepsi ini hidup dan terlihat dalam kenyataan sehari-hari, khususnya di rumah tangga. Namun akibatnya juga sangat terasa dan terlihat di gereja dan masyarakat, dimana perempuan sering dianggap lebih rendah dari laki-laki. Ini menyebabkan banyak perempuan merasa tidak percaya diri dan kurang berani mempunyai peranan dan posisi di gereja.

· Di kalangan masyarakat Batak dikenal suatu proses pemberian “tuhor” (mas kawin). Arti “tuhor” dikemudian hari mengalami perubahan menjadi “membeli”, laki-laki membeli perempuan untuk menjadi istrinya, seolah-olah seperti membeli barang. Dengan demikian istri bisa diperlakukan sesuka hati oleh suami. Hal ini juga berpengaruh kepada perlakuan terhadap perempuan di gereja dan masyarakat. Ini menyebabkan perempuan sering dianggap “lemah” dan perempuan sendiri merasa lemah dalam menjalankan peranannya dan dalam proses pengambilan keputusan di gereja

· Dikalangan masyarakat Batak dipegang teguh prinsip Dalihan natolu; somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu. Dalam praktek keluarga, sering ditekankan kepada “somba marhula-hula” yang diartikan sebagai menyembah dan melayani hula-hula seperti melayani raja. Sehingga kerap terjadi dalam acara-acara kebaktian keluarga, Pendeta (pelayan Gereja) perempuan dalam kapasitasnya sebagai pengkhotbah, setelah Ibadah usai segera disuruh membawa piring-piring dan gelas-gelas ke dapur untuk dicuci (marhobas). Jambar yang seharusnya dia peroleh sebagai pendeta itu juga batal diterimanya hanya karena dia perempuan, dan akhirnya diberikan kepada pendeta (pelayan Gereja) laki-laki.

· Di kalangan masyarakat Batak berlaku bahwa: laki-laki adalah Raja, perempuan adalah Boru ni Raja. Ini menyatakan bahwa laki-laki berhak mengambil keputusan termasuk mengambil keputusan yang berkenaan dengan boru ni raja. Dalam pesta-pesta adat , laki-laki adalah “parhata”, sementara posisi perempuan (boru) adalah “parhobas”.

b. Interpretasi Responden Terhadap Ayat Alkitab:

· Ayat yang paling sering ditekankan dalam pemberkatan nikah adalah : “tunduk kepada suami” (Efesus 5:23). Sekalipun Nats dalam perikop tentang hidup keluarga Kristen tersebut dibaca seluruhnya oleh pendeta yang memberkati, namun khotbah pendeta seringkali hanya menekankan “tunduk kepada suami” lebih dari pada penjelasan tentang ayat yang lain. Ayat ini juga sering diulang-ulang dalam pembinaan keluarga dan pembinaan kaum perempuan di Gereja. Namun seringkali penjelasannya terlepas dari keseluruhan perikopnya. “Tunduk kepada suami” sering diartikan sebagai “tunduk kepada laki-laki”. Karena ayat ini diinterpretasikan secara salah, akhirnya menimbulkan diskriminasi pada perempuan. Dalam konseling perkawinan interpretasi yang tidak adil ini sering diulang-ulang. Kata “tunduk” ini menguatkan nilai-nilai laki-laki sebagai raja dan perempuan sebagai pelayannya. Dalam hal ini, Injil sering dipakai untuk membenarkan interpretasi adat.

· Sebutan bahwa perempuan sebagai “penolong baginya” (Kejadian 2:18). Kata ini dipersepsikan sebagai “pembantu”, “pelayan” bagi laki-laki. Dalam bahasa Batak diterjemahkan sebagai “pangurupi” yang dalam konteks masyarakat kota diartikan sebagai pembantu rumah tangga yang melayani kehendak majikannya. Dalam bahasa Inggris, kata “helper” (penolong) menunjuk kepada subordinat (penomorduaan). Dalam ayat tersebut, ada kata “penolong yang sepadan”. Kata sepadan ini sering diartikan sebagai setara antara laki-laki dan perempuan, namun dalam kenyataan di rumah tangga dan di gereja yang terjadi adalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan terhadap perempuan.

· Kalimat: “Dari rusuk laki-laki, dibangunNyalah seorang perempuan (Kej 2:21-22) juga sering dipersepsikan sebagai ‘perempuan itu “berasal” dari laki-laki’. Kalau tidak ada laki-laki, maka tidak ada perempuan. Laki-laki yang terdahulu dan perempuan belakangan.

· Liturgi perkawinan dalam Agenda HKBP menggunakan kalimat “na so tupa paulahonmu manang tadingkononmu” untuk mempelai laki-laki, sedangkan untuk mempelai perempuan digunakan kalimat “na so tupa mahilolong manang tadingkononmu”. Kata “mahilolong” untuk pengantin perempuan, bermakna perbuatan tidak bermoral, selingkuh, binal, cabul. Padahal dalam kenyataannya lebih banyak persentase suami-suami yang “nakal” dan selingkuh ketimbang para istri.

Kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk lain

Di Indonesia lagi-lagi perempuan yang menjadi korban dan sasaran kekerasan serta kontroversi. Beberapa bulan terakhir ini, pemberitaan media massa dan media elektronik diramaikan oleh liputan aksi Demo yang Pro dan Kontra terhadap adanya rencana pemerintah mengesahkan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU – APP) menjadi Undang-undang. Memang harus diakui bahwa tindakan Pornografi dan pornoaksi sudah makin meraja-lela. Manusia seakan-akan kehilangan rasa malu untuk bertindak a-moral. Segala hal yang berbau Porno menjadi ladang bisnis yang menggiurkan bagi segelintir orang di Negara Indonesia tercinta ini. Sehingga adanya semacam peraturan yang membatasi semakin meraja-lelanya tindakan pornografi dan pornoaksi memang sudah diperlukan. Peraturan demikian diharapkan bisa mengurangi Dekadensi (kemerosotan) moral yang tidak terkendali.

Dengan berlindung di balik isu tren mode, para pelaku bisnis fashion menciptakan tren pakaian yang kadang kala memang memancing terjadinya tindakan a-susila. Dengan berlindung di balik Seni / art, para pekerja dan pelaku seni menganggap bebas mengekspresikan panggilan jiwa dan bakat seni yang dimilikinya ke dalam media fotografi, lukisan dan film – yang bagi sebagian orang lainnya ternyata dianggap tindakan pornografi dan pornoaksi karena memancing birahi. Namun pertanyaannya sekarang, apakah dengan disahkannya RUU-APP menjadi Undang-undang otomatis bisa menjamin penurunan kualitas dan kuantitas bahkan menghapuskan tindakan a-moral yang dilakukan oleh anak bangsa?

Dalam kontroversi RUU – APP lagi-lagi perempuan yang menjadi korban dan sasaran kekerasan. Perempuan didiskreditkan dan dianggap sebagai biang kerok yang sangat berpotensi merusak moral bangsa. Seluruh keberadaan perempuan dianggap riskan menyebabkan terjadinya tindakan a-moral. Tubuh dan pakaian yang dikenakan oleh perempuan menjadi kambing hitam untuk melegitimasi tindakan perkosaan yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Padahal, mengapa baru sekarang hal itu menjadi persoalan? Zaman nenek moyang kita dulu, perempuan juga berpakaian minim, tubuhnya hanya dililit sehelai kain (Batak: Ulos) atau kemben yang menunjukkan seluruh lekuk-lekuk tubuh. Meski demikian dulu sangat jarang terjadi tindakan pemerkosaan.

Kalau kita mau jujur, bukankah perempuan lebih dalam posisi dikorbankan dan dimanfaatkan sebagai komoditi karena kebutuhan kaum laki-laki? Sebagai contoh, iklan oli mobil menampilkan perempuan berpakaian mini dan seksi atau iklan sebuah produk rokok dengan seorang perempuan memakai swim’s suit di pantai. Sebenarnya di mana relasi / hubungan perempuan berpakaian minim dengan oli mobil atau rokok? Bukankan ini salah satu bentuk kekerasan dan arogansi patriarkhi terhadap perempuan karena laki-laki kebanyakan menjadi konseptor dan project manager bagi tersedianya komoditas tersebut?

Perempuan, riwayatmu kini…

Dewasa ini sudah terjadi banyak perubahan yang dialami oleh perempuan. Perubahan ini juga terjadi karena peranan perempuan Batak di dalam keluarga dan masyarakat yang ditandai dengan adanya perempuan yang bekerja secara profesional dan perempuan-perempuan yang mencari nafkah sendiri. Sehingga sebutan perempuan sebagai “pardijabu” juga sudah jarang dikatakan.

Masyarakat Batak, baik di kota kecil maupun kota besar, sudah bisa menerima secara lapang dada dan tanpa rasa kecewa apabila anaknya yang pertama adalah perempuan (mungkin karena itulah tercipta lagu: boru panggoaran). Mereka merayakan kelahiran anaknya dengan “esek-esek” sama seperti lahirnya anak laki-laki. Pada sebagian orang Batak apalagi yang tinggal di kota besar justru bangga apabila anak pertama yang lahir adalah “boru” karena anak pertama ini biasanya bisa bertanggungjawab dan mampu memimpin adik-adiknya menjadi lebih baik. Banyak orangtua Batak yang pada masa tuanya yang merasa jauh lebih nyaman bila tinggal di rumah borunya daripada di rumah anak laki-lakinya. Karena tinggal di rumah anak perempuan berarti diurus oleh anak perempuannya sendiri sementara kalau tinggal di rumah anak laki-lakinya akan diurus oleh menantu perempuannya padahal hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan adalah hubungan ketegangan (bandingkan dengan istilah: boru hangoluan, anak hamatean, yang artinya: ketika hidup orangtua lebih memilih tinggal bersama borunya, namun setelah mati adatnya akan dilaksanakan di rumak anaknya).

Dalam hal pendidikan untuk anak-anak, orang Batak juga sudah memberi kesempatan yang sama kepada anak laki-laki dan anak perempuannya. Prioritas diberikan kepada anak yang memang mampu dan mempunyai minat untuk sekolah. Ini terjadi baik di kota-kota kecil maupun di kota besar. Sama halnya dengan warisan. Banyak orangtua Batak pada masa kini yang memberikan hak yang sama kepada anak laki-laki dan anak perempuan untuk mewarisi harta orangtuanya seperti rumah, sawah, tanah/ladang. Tentu saja semua itu dibagikan lebih banyak kepada anak laki-laki dengan alasan anak perempuan tetap mendapat bagian dari keluarga suaminya. Orang Batak sudah melihat anak perempuan bukan lagi sebagai orang yang hanya mempunyai hak menumpang atau mengikut orangtua/suaminya tetapi dia juga mempunyai hak waris. Artinya, anak perempuan mendapatkan hak untuk mewarisi harta pusaka orangtuanya sama seperti anak laki-laki berupa rumah, tanah, sawah/ladang.

Orangtua juga sudah memberikan kebebasan kepada anak perempuan dalam menentukan teman hidupnya. Kecuali bila anak perempuan itu semakin tua, mungkin dia akan meminta orangtuanya untuk mencarikan jodoh yang cocok untuknya. Perkawinan dengan pariban tidak menjadi favorit lagi. Pada masa kini, ada banyak perempuan yang tidak menikah sampai lanjut usia. Banyak dari mereka yang mempunyai pekerjaan dan profesi yang baik sehingga mereka tidak perlu lagi menggantungkan dirinya pada orang lain. Dalam hal khusus, seperti perempuan yang bekerja di gereja seperti diakones, bibelvrow justru mempunyai posisi yang tinggi dalam keluarga dan masyarakat adat karena mereka banyak membantu keluarganya, dalam hal finansial dan spiritual serta tidak pernah absen dalam menghadiri acara-acara adat keluarga.

Harapan ke depan

Harapan yang akan datang sebenarnya adalah perempuan akan semakin disadarkan bahwa dia adalah ciptaan yang sama dengan laki-laki dan hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah hubungan mitra yang setara. Dengan demikian semakin banyak perempuan memperoleh kesadaran yang kritis terhadap fase-fase kehidupan yang dilaluiya serta mempunyai kesanggupan untuk mengubahnya. Dalam hal ini perlu adanya pendidikan yang formal dan informal khusus kepada perempuan, yang berorientasi pada kesetaraan gender.

Budaya Batak sama seperti budaya pada suku-suku lainnya mempunyai inti. Inti dari adat dan budaya adalah harmoni, keseimbangan, kebersamaan dan cita-cita hidup yang luhur. Inti budaya ini perlu diterjemahkan ke dalam situasi masyarakat masa kini, dimana pengarusutamaan gender sedang berlaku. Dengan demikian, suatu saat adat itu bukan sebagai penghambat dan momok bagi perempuan tetapi menjadi bagian hidup dan cara hidup dari perempuan dan laki-laki. Terciptanya adat dan budaya yang ramah kepada perempuan bukan adat dan budaya yang menghukum dan menghakimi perempuan, inilah harapan ke depan.

Gereja sebagai bagian yang integral diharapkan berperan sangat aktif di dalam mengabarkan berita pembebasan tentang kekerasan budaya yang dialami perempuan pada fase-fase hidupnya. Sebab justru di dalam fase-fase kehidupan perempuan ditemukan secara jelas elemen-elemen kekerasan terhadap perempuan yang bisa terlihat wujudnya sebagai kekerasan di rumah tangga, di masyarakat dan di gereja. Dalam hal ini, gereja diharapkan bukan saja berkhotbah tentang bagaimana perempuan menjadi istri yang baik, tetapi juga berkhotbah untuk menyadarkan warga jemaat tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Olien Sirait – Pematangsiantar





Journey to Taiwan: journey to found my freedom…

26 07 2008

Participant of WorkshopJourney to Taiwan: journey to found my freedom…

Teologi di semua belahan bumi (misalnya: Lutheran, calvinis, Presbyter, Kharismatik) nyaris seragam, hampir tidak pernah berubah. Teologi klasik mendoktrin bahwa yang berada dalam struktur kalsik adalah kebenaran, diluarnya sebuah kesalahan. Menyembah Tuhan dan melakukan perintahNya adalah kewajiban. Terjadi pengkotak-kotakan dan klasifikasi dalam struktur dan Gereja adalah ”home” (tempat untuk berteologi).

Sedangkan Critical Feminist Theology for Transformation melakukan hal sebaliknya: bagaimana mengubah cara pandang, bahwa kebenaran bukan paket dari pengetahuan, melainkan sesuatu yang harus dicari, sampai menemukan bagian dari kebenaran itu secara bersama-sama. Teologi bukanlah sesuatu yg sudah jadi, melainkan sebuah proses mencari kebenaran sampai akhirnya menemukan bersama cara bersikap, cara berelasi.

Introduction
Meski dilahirkan dan dibesarkan dalam nuansa kultur Cina yang kental di Pematangsiantar, namun sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa suatu saat aku boleh menjejakkan kaki di Taiwan – Negeri leluhur bangsa Cina. Memang sejak kecil aku sudah sering mendengar cerita para tetanggaku yang kupanggil sebagai “A Ma”, “A Kong”, “A’i”, “A Chek”, “Shuk Me”, “A Pek”, “Cici”, “Koko”, “A Kim”, “A Kho” sepulangnya mereka dari perjalanan ke negeri leluhur mereka. Tidak jarang pula aku menikmati makanan khas yang mereka bawa sebagai buah tangan.
Tatkala mendengar mereka bercerita, aku hanya mengibaratkan perasaan mereka sebagaimana perasaanku ketika mengunjungi Sihubakhubak, kampung leluhur Ompungku di Porsea: meski bukan sebuah keharusan, namun tidak juga ada istimewanya, pikirku. Karena itulah, mengunjungi Taiwan tidak pernah menjadi programku sebelumnya.

Journey Background
Betapa beruntungnya aku mengenal dan menjadi sahabat dari Yong Ting Jin, yang menjadi coordinator dari organisasi AWRC – ASIAN WOMEN’S RESOURCE CENTRE (for culture and theology), yang berpusat di Malaysia. Berkat Ting Jin pula aku dan Pdt. Debora Purada Sinaga, MTh boleh berada di Taiwan untuk mengikuti ORIENTASI dan WORKSHOP: Young Women Doing Critical Feminist Theology of Liberation in Asia yang mengambil Thema: Life Stories in the Tension Between Power and Empowerment. Orientasi dan Workshop ini terselenggara berkat kerjasama ASIAN WOMEN’S RESOURCE CENTRE (for culture and theology) dengan Tainan Theological College and Seminary (TTCS – Taiwan).

Sebenarnya ini merupakan Workshop kedua, sebagai lanjutan dari Workshop pertama “YWDT pre-gathering and Joint History workshop” yang telah dilaksanakan tahun 2006 yang lalu di Kuala Lumpur. The 2nd Workshop ini dihadiri oleh 31 orang perempuan Kristen Muda dari berbagai negara di Asia. Kebanyakan dari mereka adalah anggota dari “Young Women Doing Theology” Network. Dari judul organisasinya terindikasi bahwa perempuan-perempuan itu berlatar belakang pendidikan Theology, meski bukan semua mereka menerima Tahbisan (Ordined). Tujuh diantaranya adalah Perempuan Indonesia yang berpendidikan Theology, yang bekerja sebagai Pendeta, aktivis perempuan, NGO, dan sebaginya.

Tainan Theologica College and Seminary
Alumni House, Tainan Theological College and Seminary, yang terletak di 117 Tungmen Road, Section 1 menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan Workshop. Seminary ini merupakan seminary Kristen tertua di Taiwan, berdiri tahun 1876. Shoki-Coe adalah “founding father” (pendirinya). Saat ini Rektor Seminary ini (boleh dihilangkan untuk menghindari repetisi) dijabat oleh Dr Huang Po Ho.

Seminary ini juga sudah bebas dari bias jender, sangat familiar dengan Theologia Feminis. Hal ini terasa dari begitu banyaknya perempuan yang sudah masuk dalam jajaran pimpinan di Campus ini. Mayoritas mahasiswanya juga adalah perempuan. Ternyata perempuan di Cina sudah lebih modern dari perempuan Cina di Indonesia yang masih sering mengalami diskriminasi dari orangtuanya dalam hal pendidikan – seperti yang kulihat di lingkungan tempat aku dibesarkan.

Kesan pertama yang kurasakan ketika menginjakkan kaki di Seminary ini sangat berbeda. Bangunan yang sebenarnya tidak terlalu baru, namun sangat rapi, bersih dan asri membuatku terhenyak sejenak. Bangunan berlantai 4 ini sangat modern dan terawat, sangat berbeda dari model Asrama seminary pada umumnya di Indonesia. Asrama ini memiliki kamar tidur full AC dilengkapi Springbed, dengan kamar mandi yang dilengkapi fasilitas water heater. Tiap kamar juga dilengkapi dengan access internet kecepatan tinggi secara gratis selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, namun harus dengan menggunakan Laptop sendiri (Jika tidak memiliki, boleh juga memakai fasilitas internet di Perpustakaan Seminary). Di lantai 4 ada ruangan cuci – seterika dengan fasilitas mesin cuci, di mana masing-masing penghuni boleh melakukannya sendiri. Air minum juga diperoleh dengan system osmosis, sangat higienis. (Aku sampai berkhayal…. Kapan kiranya keadaan Asrama STT – HKBP, tempat di mana aku pernah tinggal saat menjadi mahasiswa berubah menjadi seperti TTCS. Semoga suatu saat…….).

Lingkungan Seminary yang sangat teduh dan asri didukung oleh banyaknya pohon-pohonan. Yang paling banyak adalah pohon Longan (klengkeng). Bulan Juli – Agustus adalah musim berbuah. Aku sedikit iri, karena di Indonesia buah Longan lumayan mahal, padahal di kompleks Seminary ini dibiarkan berceceran di tanah bahkan sampai membusuk karena banyaknya buahnya yang tidak dikumpulkan. Mungkin juga karena para Mahasiswa/i-nya sudah bosan menikmatinya.

Terkenang aku saat masih study di STT-HKBP, situasinya sangat berbeda karena buah kelapa di pekarangan seminary, bahkan tidak jarang buah mangga dan jambu di pekarangan rumah para Dosen “hilang” dari pohonnya sebelum waktunya.…. Hahaha…..

Materi Workshop
Sesuai dengan Tema yang diusung 2nd Workshop ini: Life Stories in the Tension Between Power and Empowerment, percakapan dalam workshop ini juga tidak jauh dari kisah hidup pesertanya yang seluruhnya adalah perempuan.. Dalam Workshop ini kami dibimbing oleh Lieve I. Throch, Theolog Feminist berkebangsaan Belgia yang menetap di Belanda. Dia menuntun kami belajar ”Feminist Critical Theology for Liberation”, bukan hanya Teologi atau sekedar Teologi Feminis semata. Metodenya dengan melakukan alisis Alkitab, melihat Alkitab secara kritis, dan bagaimana perempuan setuju dengan otoritas atau power, di mana power bisa menindas sekaligus membebaskan.

Sebagaimana kita ketahui, dalam pengalaman bergereja dan ber-Tuhan, “Tuhan” Protestan adalah Alkitab, sedangkan bagi Katolik telah didoktrin setuju dengan Otoritas, karena Gereja hanya merupakan lapis otoritas tertentu. Bagi Katolik “Tuhan” adalah Hirarki (Paus, Uskup, Pastor).

Metodologi Critical Feminist Theology for Liberation bisa dipakai di tingkatan Sistematik Teologi, Biblical Teologi/hermeneutik, Church History, Etika, dsb. Otoritas agama seringkali dipakai untuk menindas. Ada aturan tertentu atau ajaran tertentu yang berlaku dalam masyarakat, tetapi agama merupakan lapis tertentu yang tidak bisa digugat. Agama dipakai untuk melegitimasi aturan atau ajaran tertentu. Misal: dengan menyebut Alkitab sebagai Kitab Suci, kita tidak bisa mengkritisinya, karena dianggap ”Suci”. Demikian halnya dengan menyebut Paus sebagai orang Suci, otoritasnya tidak boleh digugat.

Peserta adalah perempuan yang hampir seluruhnya berpendidikan Theologi (3 orang dari 4 peserta yang berasal dari India, meski baru berusia 29-37 tahun sudah menyelesaikan pendidikan Doktoral Theologia dan berprofesi sebagai Dosen di seminary; beberapa perempuan muda Taiwan juga sedang study Doktoral Theologi di TTCS – keadaan dan kenyataan ini sangat berbeda dari kondisi yang dialami oleh Perempuan Pendeta di HKBP). Dari pengalaman studi Teologi, ternyata dididik dalam Teologi klasik: berarti terstruktur dan siap pakai, lengkap dengan konsep dan ide-ide para ”Teolog besar” sebelumnya, cara membaca Alkitab dan menafsir dengan bank system, tinggal menyerap, mereproduksi dan menerapkan, para Dosen adalah Guru, mahasiswa Teologia wajib belajar, waktu dan tempat tidak berpengaruh. Teologi di semua belahan bumi (misalnya: Lutheran, calvinis, Presbyter, Kharismatik) nyaris seragam, hampir tidak pernah berubah.

Teologi klasik mendoktrin bahwa yang berada dalam struktur kalsik adalah kebenaran, diluarnya sebuah kesalahan. Menyembah Tuhan dan melakukan perintahNya adalah kewajiban. Terjadi pengkotak-kotakan dan klasifikasi dalam struktur dan Gereja adalah ”home” (tempat untuk berteologi).

Sedangkan Critical Feminist Theology for Transformation melakukan hal sebaliknya: bagaimana mengubah cara pandang, bahwa kebenaran bukan paket dari pengetahuan, melainkan sesuatu yang harus dicari, sampai menemukan bagian dari kebenaran itu secara bersama-sama. Teologi bukanlah sesuatu yg sudah jadi, melainkan sebuah proses mencari kebenaran sampai akhirnya menemukan bersama cara bersikap, cara berelasi. Allah bukan satu-satunya yang resesif bagi kita.

Penting untuk menemukan gambaran tentang ”Hero” (Pahlawan), karena biasanya hero menjadi konsep yang sangat hirarki. Namun Hero sesungguhnya adalah orang-orang yang berperan dan menginspirasi. Sehingga dalam Critical Feminist Theologi for Transformation yang dilakukan adalah ”Transform the God, Transform the reality and the “journey” is home”. Berteologi adalah berproses, bukan hanya belajar dari buku. Dalam rangka membentuk ulang teologi tidak ada satupun dari kita yang lebih tahu dari yang lain, tapi kita bisa saling membantu dalam prosesnya, saling mengingatkan.

Peserta Workshop diberi pelatihan untuk membedakan antara tantangan untuk berpikir dan konflik personal. Dengan mampu mengatasi perbedaan, maka manusia bisa hidup bersama dalam perbedaan, sekaligus mematahkan dalil yang terjadi di kehidupan sehari-hari, yg menyatakan bahwa perbedaan merupakan sumber konflik. Budaya, agama, identitas diri, dll adalah lapisan-lapisan yang harus dikupas, dalam rangka menemukan cara bersikap bersama. Dalam proses ini mungkin kita akan bingung apa yang kita lakukan, apa yang terjadi dan merasa dunia jungkir balik. Dengan tidak mengambil beban lebih dari kemampuan, hal ini bisa diatasi.

Teologi menjadi sesuatu yang menakutkan, tapi sekaligus bisa membebaskan. Alkitab bisa menjadi inspirasi, membebaskan tapi juga menindas. Ada relasi ganda antara kita dengan Alkitab. Karena itu perlu membangun Cara yang Kritis dalam Teologi.

Peserta juga diperkenalkan dengan istilah ”The Journey is Home”, yang digagas oleh feminist Amerika, Nella Morton. Biasanya “journey” disebut sebagai “meninggalkan dan pulang ke rumah”. Namun dengan mengatakan “the journey is home” berarti kita akan selalu dalam “journey”, jangan berpikir untuk kembali karena tidak ada jalan kembali. Meski dalam proses kita tidak tahu dimana kita berhenti, namun kita mesti membuat sesuatu yang baru dan mencari bersama. Dalam proses “journey” juga dipakai metode “the dance of liberation and transformation” yang diperkenalkan oleh Theolog Feminist Elizabeth Schusller Fiorenza dari bukunya “in memory of Her” (terjemahannya diterbitkan oleh BPK – Gunung Mulia dengan judul “untuk mengenang perempuan itu”).

Dengan mengingat bahwa dalam kurun waktu 30-40 tahun terakhir ini terjadi perkembangan pesat Teologi yang memunculkan beragam Teologi, Critical Feminist Teologi adalah salah satu cara berteologi yang berbeda. Sejak tahun 1960-an terjadi perubahan paradigma dalam teologi dengan munculnya Teologi baru, termasuk didalamnya Teologi Kontekstual dan Teologi Global.

Sejak tahun 1940-1960 banyak Negara terkolonisasi merdeka dan mulai mencari identitas mereka sendiri. Proses kemerdekaan ini membuat para penjajah kembali ke negaranya, yang mendorong Negara yang baru berkembang menemukan identitas Nasional mereka. Bersamaan dengan itu para misionaris kembali ke negaranya, dan bermunculan Pastor lokal. Teolog yang belajar teologi di Barat mulai mengembangkan Teologi Politis, mempertanyakan bagaimana mungkin untuk tidak protes atas tindakan para kolonial. Mereka menyerukan bahwa sebagai teolog perlu menjadi lebih politis, berpihak pada korban, tidak menjadi kaum borjuis (berpikir mapan, tidak melihat ada masalah dalam pembunuhan, sangat rasional). Saat itu Teolog Amerika Latin, Afrika, dll yang menjadi murid di Teologi Barat kembali ke negaranya melihat realita yang sangat berbeda. Maka mereka menyatakan bahwa kita perlu punya posisi politik tertentu. Di Amerika Latin ada :Gustavo Guitires, Leonardo Boff, Mijouri; di Asia ada: Aloysius Pieris, Tisa Balasurya, Rayan, MM.Thomas, Kim Yong Bok. Mereka mulai membangun Teologi Konstektual dan Teologi Pembebasan. Teologi dari Barat adalah Teologi untuk orang kaya. Kita butuh teologi untuk orang miskin supaya mereka bisa memerdekakan diri sendiri.

Teologi Klasik bukan Teologi Universal tapi “Western capitalist colonial Theology”. Tempat dan waktu menjadi sesuatu yang penting dalam Teologi. Setiap konteks, situasi dan waktu berbeda, karenanya Teologi yang dibangun juga berbeda, sebab teologi harus berakar pada realitas dan menjawab persoalan realitas. Inilah yang disebut Teologi Kontekstual. Teologi konstekstual mempunyai metodologi yang berbeda dengan Teologi Klasik. Analisis realita menjadi langkah pertama, kemudian kritik terhadap realita dan teologi, kemudian membangun teologi yang baru. Metodologinya sungguh berbeda. Yang Klasik dari atas ke bawah, yg kontekstual berakar dari realita.

Liberation Teologi adalah bentuk lain dari Contextual Theology, tapi melakukan lebih. Langkah-langkah dalam metodologi di Liberation Theology adalah diskusi untuk membuat konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi. Asumsinya bahwa semua Theology adalah hasil konstruksi. Kemudian didekonstruksi dan akhirnya direkonstruksi. Tiga langkah metodologi ini dipakai juga dalam feminist teologi.
Teologi Pembebasan membuka topeng Clasic Theology yang “white western middle class and male Theology”. Subject dalam Teologi Pembebasan menggunakan metodologi ini untuk membuka topeng Teologi Klasik ini. Namun tidak semua Teologi Kontekstual merupakan Teologi Pembebasan. Bisa saja Teologi Indonesia misalnya, bisa jadi sangat “male Theology”. Teologi Kontekstual bisa jadi Cultural Theology, tapi tidak selalu membebaskan, bahkan kadang menindas. Karena ada budaya tertentu yang sangat menindas.

Karenanya perlu hati-hati: jangan sampai mencampuradukkan antara Teologi Kultural (inkulturasi) dengan Teologi pembebasan. Ada juga Teologi Kultural yang justru lebih konservatif dari Teologi Barat. Dalam teologi Barat yang sangat rasional – masih dimungkinkan adanya perdebatan, sedangkan Budaya terkadang tidak bisa diperdebatkan, karena itu perlu dikritisi. Kritik terhadap teologi seperti ini dimulai dari Teologi Pembebasan.

Teologi Pembebasan mempertanyakan siapa yang dirugikan? Siapa yang termasuk di dalamnya? Siapa yang diuntungkan?

Cukup lama Teologi Pembebasan selalu bicara soal perubahan struktur. Ini hanya menjadi isu kelas menengah, sedangkan orang miskin sendiri tidak melihat banyak perubahan, mereka harus berpikir dan bertindak. Agama tidak pernah menjadi pemecah masalah orang. Karena itu Teolog Feminis harus selalu berelasi dengan perempuan lain, tidak bisa hanya sendiri buat teori dan tulisan. Kita harus bekerja bersama perempuan, membuat perubahan dan melihat apakah berhasil membuat perubahan.

Dulu, para Teolog Feminis harus belajar semua teologi klasik dulu baru bisa membuat Teologi sendiri. Teolog Feminis menghadapi dilema, di satu kaki berada di dunia perjuangan, dan di kaki yang satu lagi di dunia akademisi. Male teologi berusaha mengontrol Allah sebagaimana Gereja mengontrol Allah dengan mengatakan apa yang “bias” dan “tidak bias”. Hanya sengan menyadari bahwa manusia telah mengontrol Allah maka cara hidup dan cara pandang bisa berubah. Yang harus dirpikirkan adalah bagaimana berteologi tanpa mengontrol Yang Ilahi, dunia dan orang lain. Untuk itu harus diciptakan sesuatu yang berbeda.

Selalu ada situasi ganda: Alkitab, Gereja bisa menindas tapi juga bisa juga membebaskan. Ciri-ciri yang dimiliki oleh Institusi-institusi agama, diantaranya: Alkitabnya ditulis oleh laki-laki, diinterpretasi oleh laki-laki, Pemimpin agamanya atau pendirinya adalah laki-laki, Mediatornya adalah laki-laki, Setan diproyeksikan sebagai perempuan dan di dalam tubuh perempuan (ada yang salah dalam tubuh perempuan sehingga kita tidak bisa merepresentasikan diri sebagai mediator), laki-laki harus berhati-hati terhadap perempuan karena dianggap berbahaya, perempuan harus mendekati laki-laki untuk bisa sampai ke Allah, merendahkan agama-agama yang tidak terinstitusi (padahal terkadang justru dalam agama non institusional ditemukan figur Allah Feminim).

Makin monotheistik suatu agama, seringkali justru semakin memaksa dan eksklusif. Rasionalitas memang baik karena memungkinkan untuk mendiskusikan masalah. Persoalannya adalah: rasionalitas siapa yang digunakan? Dengan rasionalitas bisa dibangun visi, namun hendaklah terbangun visi yang bisa memvisiblekan, menghargai dan merangkul.

Perempuan kerap mengalami pengalaman negatif, seperti: Invisible di dalam gereja, masyarakat, Alkitab; excluded di dalam gereja, masyarakat, alkitab; diidentifikasi sebagai evil dan dipersalahkan; tidak pernah boleh memandang dirinya sendiri, dunia, dan yang Ilahi dari kaca mata perempuan, melainkan dibiasakan untuk melihat dirinya dari kaca mata laki-laki (apa yang seharusnya terjadi pada perempuan dinilai dari mata laki-laki; misalnya: tentang konsep kecantikan maupun karya seni di jaman dulu); terlalu banyak lapisan yang membungkus sehingga sulit untuk bisa merepresentasikan dirinya sendiri dan bagaimana seharusnya perempuan.

Namun tidak cukup hanya mengekspresikan pengalaman sebagai perempuan tapi juga mesti menganalisanya. Sehingga tidak cukup hanya membuat konsep Feminine Theology, Female Theology, gender Theology, women’s Theology, karena itu bukan jawaban akhir. Menggeluti konsep Feminine Theology, Female Theology, gender Theology, women’s Theology sama artinya dengan menjebakkan diri dalam Theologi Clasik, dan itu bukan tujuan dari “Critical Feminist Theology for Liberation and Transformation”.

Sebagai latihan untuk melakukan critical Analysis for Liberation and Transformation kami melakukan Penelaahan Alkitab. Beberapa Nats yang sempat dibahas di antaranya: Kejadian 38:1-30; Matius 20:1-16; Markus 5:21-43; Lukas 4:16-22; Lukas 10:38-42; 1 Korintus 12:12-31; 1 Timotius 2:3-15; 1 Timotius 3:2-12.

Jujur saja, aku sungguh-sungguh terbelalak melihat kenyataan betapa berbedanya pemahaman terhadap Nats yang kuperoleh dari metode critical analysis jika dibandingkan dengan metode teologi klasik yang kupergunakan selama 15 tahun sejak berada di Seminary Teologia dalam melakukan interpretasi terhadap nats Alkitab. Ini modal awal bagiku untuk merubah paradigma dan mengkotbahkan Nats Alkitab sebagai berita yang membebaskan, menghargai dan merangkul.

Penutup

Waktu yang tersedia bagiku selama 10 hari di Taiwan terasa sangat singkat. Apalagi padatnya jadwal Orientasi dan workshop sangat membatasi kebebasan untuk city seighseeing. Namun itupun sudah sangat kusyukuri, karena apa yang tak pernah kupikirkan dan kubayangkan, telah kunikmati.

Karena begitu menariknya persekutuan bersama perempuan-perempuan muda berpendidikan Teologi yang tergabung dalam Young Women Doing Theology Networking, maka aku dan Pdt Debora Sinaga tidak ragu-ragu lagi mendaftar menjadi anggota penuh organisasi Asian Women Resource Centre yang menaungi YWDT Networking. Kami berdua adalah perempuan HKBP berpendidikan Teologi yang pertama menjadi anggotanya.

Semoga kehadiran kami di organisasi ini bisa memberi kontribusi bagi proses Critical Feminist Theology for Transformation and Liberation, untuk menjawab sebahagian dari pergumulan perempuan Batak yang berada dalam bayang-bayang Adat Budaya dan Interpretasi Alkitab yang sering kali melakukan kekerasan terhadap perempuan ditengah kehidupan sehari-hari maupun di dalam gereja. Semoga……….





Batak Christian Women Facing Violence:

6 07 2008

Batak Christian Women Facing Violence:
(A Scientific Study on the Experience of women in the Batak Adat-Culture and Interpretation of Religious Experience)

Preface

Its logic if there sating that the world is belongs to women, why? Due to majority of resident in world are women. The whole seat in the church also stayed by women, domestic works intended to women. The existence is the reality, but over burden on women not equivalent to award. Even women mostly shoulder suffering at multi dimension and tends be more significant. This is tragic in which women none of awareness and regardless everything.

In many aspects of Batak’s life, man has more attention than women. Moreover, women had never been participated in decision maker while the man used to be spoke’s person in Batak culture. Women stereotyped as illogic and feeling were minded, no skill to lead, even it accused as a tempter. For women widow, a negative voice is not only coming from man but also from women itself. Widow is seen as tempter and naughty particularly for other household. Therefore pressures to women in day by day tends to increase and dangerous. Our culture and custom still put insight Patriarchy where man as a very important person (VIP) and women as second class.

Some cultural values in Batak
Majority of Indonesian culture are Patriarchy, which is the highest decision belongs to man. The others values are:

Clan / Marga : relation between lineage of one group internally and Patriarchy. Meanings, man as beneficiaries of hybrid line.

Tri Angulations / Dalihan natolu: Triangle aspect inside of culture: Somba marhula-hula (Respect to law in family), Elek marboru (preserve to women family) and manat mardongan tubu (appreciate to similar family/genus). This is a three angle that put the law in father/mother family as a Kingdom. So, in practically this is happened within church ministry. As women pastor/reverend often would appreciate during of preaching on the pulpit but after that she asked to clean plate or glass in the cooking room.

Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon : There are three the target way of life in Batak. Hamoraon means Wealth, Hagabeon means good generation and Hasangapon means Prestige.
Heritage / Warisan : Woman right in Batak is Follower. She has no right to have in herit unless something offering.

Money’s Token/Sinamot (mas kawin) / Tuhor / boli (buyer) : This is a token for legal transaction between man and woman. That is why, man easy doing violence to woman.
Motherhood/parsonduk bolon : An expression to woman as a good treasure. Wife is trusted to keep the money. She has to manage well all domestic expenses and social services.

Interpretation to Culture and Customary

The research is to analyze the impact of interpretation in cultural value against women injustice. For temporary observation, there are so many interpretations among Batak people on women suffering.

In Batak culture is known a perception on: Pardijabu (house mad), where women intended to be domestic servant. This could be shown inside of church of HKBP including opinion built of church leader of HKBP.

In wedding party is known something called as Tuhor means BUYER or a something delivered to women family. So then, women were being presented to man family including the basic rights of women. It is why women had position lower than man, also in case man doing violence to women is normally happened. This is what I have shouldered in my household.

The others, what we called as Dalihan Natolu or Triangle aspect inside of culture: Somba marhula-hula (Respect to law in family), Elek marboru (preserve to women family) and manat mardongan tubu (appreciate to similar family/genus). This is a three angle that put the law in father/mother family as a Kingdom. So, in practically this is happened within church ministry. As women pastor/reverend often would appreciate during of preaching on the pulpit but after that she asked to clean plate or glass in the cooking room.

In Batak’s culture, is known that men are the King (Raja) and Women are the daughter’s of the King (Boru ni Raja). This most important when the decision should taken by Men only. Even the decision on women’s life should delivered by spoken men (Raja Parhata) and Women would be asked to serve those of people’s meeting.

Generation sense: when a couple married, the big family member expects for a new generation (hagabeon). If it too long time, they will look for other ways including medical effort and traditional. This so very often women intended that the women is being trouble making therefore any reason to seek another woman.

Heritage: when a women goes die without man generation, it will be disqualified from family history even no normal procession ceremony for cemetery.

Wealth/Together ownership: woman without good generation will not have the right for wealth or ownership. The right will be moved to other man brothers.

When Get Birth: soon peoples will ask the gender. If man should be good and in contrary woman, should be stated for other places as breeding life.

Different attitude: due to perception on gender in Batak life, it can be shown different attitude to man and women. Mostly parents feel satisfy to have man than women.

Education priority: priority will be privileged to man than woman. This is considered that man will be chief of household.

In Batak’s culture, is known that men are the King (Raja) and Women are the daughter’s of the King (Boru ni Raja). This most important when the decision should taken by Men only. Even the decision on women’s life should delivered by spoken men (Raja Parhata) and Women would be asked to serve those of people’s meeting.

Marriage: Parent dreams their daughter should have couple from sister son of his family. This is proposed for sustainable relationship. If her age over 25 fives her parent will be worried that she has no partner.

Divorce: there some types of divorce in Batak. Firstly, there is no children, chronic disease, affair, moved back to her family. But man has no consequence on above factors.
Women unmarried: intended as kids, without husband even her die will not be appreciated.

Interpretation of Bible

The research aims to analyze how the church with strong tradition in Batak rooted under patriathical principle, do nothing to freedom and justice. Even though Christian doctrine is assumed more recognize equity and egalitarian principles among man and women, free from gender discrimination, but it seems that misinterpretation of Bible text against the whole contains of Bible and Christian tradition also has taken part in making violence behavior to women.

Human Creation:
Genesis 1:26-28 : many peoples interpreted the chronologic of human creation as: the man created first, than the women. This paradigm sets as a model to override women’s role and function, either in the Church, household, civil society and tradition community.

Genesis 2:4-25 : This periscope is frequently interpreted as male supremacy and women inferiority. The man created first so that possesses authority and dominancy, whiles woman as helper is subordinate of a man. Let see the verse from Genesis 2:18 which said “a help meet for him (man)”. In many terms of Indonesian Language quoted that a help from women is the helper role (pembantu / pangurupi). Does it true that women as helper to man? This means woman as subordinate of man, there is no egalitarian principles. Otherwise the Women had no right to stand similarity. This verse should translate as partner in the whole of household. The basic right as well as the human Right Charter is the common principle of Men and Women relationship. Statement on “And the rib, which the LORD God had taken from man, made he a woman, and brought her unto the man” (Genesis 2:22), this often perceptional that man was firstly or primary and woman was secondly. Without man would not being woman.

Relationship between man and women (Genesis 3:16-24) : Adam and Eve have been created for the unity of life, for same reason according to God image, are responsible independently and jointly maintain orderliness of the responsibility. Adam and Eve deserve the punishment for their fault and sin. Women will suffer pain in conception, in sorrow shall bring forth children, and men shall rule over women. Men shall suffer difficulties to fulfil his necessity for a lifetime until his return unto the ground, for out of it was taken: ashes to ashes, dust to dust. Nevertheless, this periscope is frequently interpreted and be used to limit women’s right to have proper career, as if impressing women function only containing, give a birth, take care of children (domestic work), while men work outdoorsly.

Relationship between Husband and Wife (Ephesus 5:22) : The most often verse quoted from the Bible when wedding blessing is “Wives, submit yourselves unto your own husband” (Ephesians 5:22). Even this periscope is concerning to each position of man and woman in one household, but the preacher is very often focusing on woman should obey to husband and said wives, submit yourselves unto your own husband. While to man side, it had no focusing on the necessity to respect the women as his partner in life. So far, mostly man preachers have not understood yet about partnership in gender perspective. The surrender context of a wife in this periscope shall not be interpreted as dominancy of a husband over his wife. Both husband and wife is independent subject who shall defer to God. A wife must obey her husband as she obeys God. At the other side, a husband must love his wife totally with all his life, in the same manner as Christ has given His life. In short, both husband and wife as a partner shall override his ego and give mutual attention to the interest of its partner. Nevertheless, this periscope is frequently interpreted as woman should obey to husband (man). In this case, the existence of man as a “King” and women as “servant/helper” is affirmed. Consequently, women have become a victim of discrimination.

I Corinthians 11:2-16 : This periscope is frequently interpreted to empower male position who accentuates its authority. In Batak’s culture, patriarch is interpreted as “uluan” which has absolute authority, govern the law and entitled to give sanction to whom not obey his order. This absolute authority is used to take decision in the household, society, even in the Church.

Women’s right to talk in the Church (I Corinthians 14 : 33-35) : this periscope emphasize male position in Batak’s culture as “Parhata” as the main speaker in the Church, while women become a passive audience. This periscope is also frequently used as justification to limit women’s freedom to talk and express its thinking and ideas. This limitation has occurred not only in the household, but also culture dialogue, even in the Church as well.

In wedding liturgy of HKBP stated to man, never left your wife whatever would be happened, meanwhile to women said, despite the husband would be careless, cruel and brutal you should be obey and patient. Moreover the man did affair in love with others or denied.
Many other words in the Old Testament has put woman as source of sins especially at periscope of Genesis. Look at this: And the LORD God commanded the man, saying, Of every tree of the garden thou mayest freely eat: But of the tree of the knowledge of good and evil, thou shalt not eat of it: for in the day that thou eatest thereof thou shalt surely die” (Genesis 2: 16-17). This is the most important which made many peoples had interpretation on woman as sinner in the beginning of world. It was different happened if suppose Adam ate first the fruit, wasn’t it?

Today’s Women: some notes
Acknowledged that this era living better than before but perception on this context still stagnant. Either in the Bible text command to justice and harmony nor in the culture never encourages people to be disharmony. Therefore, it takes time to understand deeply on how come this interdependent and dependent or contrary. I am being challenged to find a better solution on Woman Batak Violence through Indonesia University.





Kapan pergumulan ini berakhir, Tuhan…..??

15 04 2008

Seorang Perempuan berumur 30-an tahun tertunduk dengan wajah lesu. Kondisinya tidak terawat, rambutnya acak-acakan. Dari penampilannya dengan jelas terbaca: hidupnya penuh pergumulan! Perempuan yang usianya belum terlalu tua itu terlihat jauh lebih tua dari seharusnya, kerutan sudah muncul sebelum waktunya, wajahnya muram dan tirus, rona mukanya tidak bercahaya. Pelupuk matanya membengkak, sepertinya habis menangis. Memprihatinkan sekali kondisinya.

Tertarik mengamati kondisi perempuan itu, aku mendekatinya. Dan tanpa membuang waktu, dengan perasaan meluap-luap diapun menceritakan segala masalah dan pergumulannya padaku. Aku mendengarkan dengan seksama. Hampir saja aku larut dalam ceritanya. Tidak dapat kubayangkan betapa beratnya masalah yang dihadapinya. Setelah mendengarkan ceritanya dengan seksama akupun mengerti: pergumulannya sudah di luar batas toleransi – itu menurut pikiranku. Tanpa kuduga sebelumnya, ia ternyata telah berstatus seorang istri, menantu dari seorang yang pernah menjabat sebagai direktur di sebuah BUMN di negeri dongeng. Terbayangkankah bahwa ia ternyata telah hidup dalam pernikahan yang sulit selama hampir 7 tahun? Bagaimana tidak disebut sulit, jika sejak menikah ia sering mengalami kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan seksual? Bogem mentah, tamparan, pukulan, tendangan dan caci maki serta pelecehan terhadap harkat, martabat dan harga diri sebagai seorang perempuan, adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupannya selama 2 tahun pertama pernikahannya. Untunglah ia belum sempat mempunyai anak, kalau tidak akan bertambah lagi pergumulannya. ‘Uang belanja’ juga tidak pernah diterimanya sebagaimana seharusnya karena suaminya tidak bertanggung-jawab, kerjanya hanya berhura-hura dan marah-marah. Mungkin itu sah-sah saja jika saja sang “anak mammie” belum menikah. Papanya (mertua perempuan itu) kaya, uang bukan masalah. Namun ketika perempuan itu hendak memakai talenta yang dia miliki dan ijasah hasil kerja kerasnya selama study untuk bekerja, niat tulusnya malah dihalangi dan jadi sumber masalah baru baginya.

Tragisnya, sudah lebih dari 4 tahun suaminya kabur tidak jelas rimbanya. Beberapa isyu memang beredar dan mengatakan bahwa suaminya telah hidup bersama seorang perempuan Sunda – janda dengan seorang anak. Mereka bertiga (suami perempuan itu, perempuan selingkuhannya dan anaknya) hidup nomaden dan selalu berpindah-pindah, menompang dari rumah kenalan yang satu ke rumah kenalan yang lain, sehingga sulit dilacak keberadaannya. Pahitnya lagi, ketika masa-masa awal suaminya kabur, perempuan itu telah melaporkan hasil temuannya kepada Sang Mertua, namun mertuanya malah menuduh dirinya memfitnah. Dan sekarang pergumulannya bertambah lagi karena ternyata sang mertua sedang terkapar sakit tak berdaya, dalam balutan Kanker Usus dan Kanker Hati Stadium 4 – yang tinggal menghitung hari. Meski terlambat, sang mertua akhirnya menyadari bahwa hasil temuan (menantu)nya ternyata benar terbukti. Sang mertua menginginkan perempuan itu rujuk dengan anak lelakinya (suaminya), tapi sudah sangat terlambat untuk memperbaiki kondisi yang ada. Perempuan muda itu mengatakan bahwa sudah tidak mungkin lagi baginya untuk kembali hidup bersama laki-laki yang sebenarnya masih sangat dicintainya, namun telah meluluh-lantakkan seluruh perasaan dan eksistensinya sebagai perempuan. Dilema berat kini dihadapinya: sebagai seorang Kristen yang taat, ia telah mengucapkan Janji suci pernikahan kepada Tuhan di hadapan Pendeta dan jemaat-Nya: “Pernikahan yang telah dipersatukan Tuhan tidak mungkin diceraikan oleh manusia”, namun untuk kembali pada kehidupan Rumah tangganya yang mengerikan begitu mencekam baginya, bagaikan mimpi buruk yang tidak kunjung usai.

Perempuan itu terus-menerus meratapi nasibnya, tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Terasa berat, karena tidak mungin lagi baginya mempertahankan pernikahan yang telah ternoda karena suaminya tidak setia. Namun untuk bertahan dalam kondisinya sekarang juga tidak menguntungkan, bertahan dalam pernikahan yang telah kehilangan eksistensi justru sering berdampak terhadap persepsi negatif yang sering ditujukan padanya. Namun dia tidak berdaya untuk berbuat sesuatu. Dia juga tidak punya keberanian untuk merubah kondisi yang ada. Sehingga sudah seperlima dari usia hidup yang telah dijalaninya dilalui dengan meratap dan terus meratapi keadaannya, yang entah kapan akan berakhir….?Hari-harinya berlalu dengan deraian air mata.

Mendengar ceritanya akupun terdiam sejenak, bingung memikirkan tindakan apa yang akan kuambil. Namun kemudian kuputuskan untuk mengambil segenggam serbuk pahit. Kuminta perempuan itu mengambil segelas air. Segenggam serbuk pahit itu kularutkan pada air di dalam gelas itu. Kuminta perempuan itu meminumnya. “Bagaimana rasanya?”, tanyaku. “Pahit sekali, aku mau muntah!”, perempuan itu berkata sambil meludah berkali-kali. Aku tersenyum kecut, sudah kuduga, gumamku dalam hati. Kemudian perempuan itu kuajak ke sebuah telaga (kolam) jernih, di mana ada mata air yang memancar deras. Segenggam bubuk pahit dengan takaran yang sama kutaburkan dan kularutkan di kolam itu. Lagi-lagi perempuan itu kuminta meminumnya, dan ia kembali melakukannya. “Bagaimana rasanya?”, tanyaku lagi. “Ya, ini lebih segar, dingin, sejuk…”, katanya. “Apa masih terasa pahitnya?” kutanyakan padanya. “Tidak!”, jawabnya.

Akupun tertawa. Lalu mulailah aku ‘berkotbah’ dengan memberikan nasehat kepadanya. “Pahitnya kehidupan dapat diibaratkan dengan segenggam serbuk pahit, tidak kurang dan tidak lebih. Takaran dan rasanya sama dan akan selalu sama. Namun bagaimana kita memandang kepahitan dalam hidup tergantung dari ‘wadah’ yang kita miliki. Kepahitan hidup didasarkan pada perasaan tempat di mana kita meletakkannya. Karena itu, ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya satu yang bisa engkau lakukan: lapangkanlah dadamu, untuk menghadapi semua kenyataan itu, luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu. Hatimu adalah wadah itu, perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat engkau membenamkan semua hal yang engkau hadapi. Jika engkau ingin mengubah kepahitan dan kegetiran perasaan yang engkau hadapi menjadi kesegaran dan kedamaian, jangan jadikan hatimu seperti gelas, namun berjuanglah untuk merubahnya menjadi seluas telaga. Engkau akan merasa jauh lebih baik!”, kataku mengakhiri ‘kotbah’-ku.

Cerita di atas mungkin pernah benar-benar terjadi dalam kehidupan seseorang, entah di negeri antah berantah mana. Membayangkan kisah di atas saja sudah sangat mengerikan, apalagi jika harus mengalaminya. Sulit untuk memahami mengapa harus ada cerita yang begitu pahit terjadi dalam kehidupan ini. Kadangkala hati juga menggugat: mengapa Tuhan sepertinya “menutup mata” atas pendetitaan yang harus dialami oleh anak manusia, yang adalah ciptaan-Nya? Akan ada orang yang berfikir, “koq Tuhan tega, ya?”. Namun Alkitab mengatakan: Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun (Yakobus 1:13).

Lalu jika sampai ada anak manusia yang terus menerus harus bergumul, menderita seperti tiada berujung, apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin ada anak manusia yang berfikir, apakah Tuhan sedang memberi teguran dan “pelajaran” karena dosa sang manusia memang sudah terlalu besar? Tunggu dulu! Jangan terlalu cepat menyimpulkan hal demikian. Kita mungkin ingat cerita seorang tokoh yang “kontroversial” dalam kitab Perjanjian Lama. Ayub namanya. Ia adalah seorang laki-laki di tanah Us, orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia memiliki tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan, memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar. Ia orang terkaya dari semua orang di sebelah timur. Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. (Bd. Ayub 1:1-5). Allah bahkan menyatakan bahwa “tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:8).

Lalu, jika Allah sendiri telah menyatakan bahwa Ayub adalah hamba yang saleh dan jujur, mengapa Ayub justru mengalami penderitaan yang tiada taranya di zamannya? Satu persatu anaknya meninggal, hartanya ludes, kerabat menjauhi, bahkan istrinya ikut mengutuki. Ayub menderita, tubuhnya membusuk karena penyakit kulit. Tidak terbayangkan penderitaannya. Namun, dari seluruh kisah yang dituliskan Alkitab mengenai dirinya, tidak sepatahpun Ayub mengutuki Allah, tidak pernah Ayub menyesali kesalehan dan segala baktinya kepada Allah. Walaupun Ayub memang pernah membuka mulutnya dan mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:1), namun Ayub mampu bersaksi: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”. Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.(Ayub 1:21-22). Ayub memiliki hati seluas telaga, bukan hanya sebesar gelas. Kepahitan hidup yang dialaminya tidak sedikitpun menyebabkan ia “berdosa” kepada Allah karena harus berdebat dan menggugat mengenai hal yang telah dialaminya.

Mungkin Ayub hanya satu dari sekian banyak anak manusia yang mengalami penderitaan dan bergumul dalam kehidupannya. Masih banyak kisah “Ayub” lainnya di bumi ini yang tidak atau belum terangkat ke permukaan. Sebagian orang mungkin malu menceritakan pergumulannya kepada orang lain karena takut dihakimi sebelum jelas duduk masalahnya (sebab kenyatanya, manusia memang lebih suka menempatkan diri sebagai “hakim” ketimbang jadi “pembela perkara” bagi orang lain). Ada yang kemudian tidak kuat menanggung derita dan mengambil jalan pintas, dengan percobaan bunuh diri misalnya. Sebagian mungkin berhasil dengan usahanya dan langsung mati, tapi tidak sedikit juga yang lolos dari “jerat maut” itu. Ketika nyawanya terselamatkan, ia justru mengalami pergumulan baru. Semakin dihakimi sebagai manusia cengeng yang tidak mampu survive. Karena tidak kuat menanggung tudingan dan cemoohan yang tiada bertepi, akhirnya menjadi kehilangan akal sehat (menjadi gila). Semakin tragis kisahnya!

Kapan pergumulan ini berakhir, Tuhan?”, itulah mungkin sebait tanya yang senantiasa menggelora di hati orang yang sedang bergumul. Semakin keras kita mencoba berfikir, mencoba mengurai dan mereka-reka apa yang menjadi maksud Tuhan dalam hidup manusia ciptaan-Nya melalui semua masalah yang terjadi, jawabannya semakin buram. Akhirnya mungkin kita harus menerima ‘kotbah’ Paulus yang mengatakan bahwa: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (I Korintus 10,13). Kedengarannya mungkin terlalu klise, namun kita harus belajar mempercayai dan meyakininya. Bahwa Tuhan tidaklah sekejam yang kita bayangkan. Tidak pula setega apa yang kita pikirkan. Tuhan mampu memberikan jalan keluar, sesuai dengan rencanaNya, dan menguatkan orang yang bergumul dalam menanggung bebannya. Tuhan mungkin “sengaja” mengijinkan pergumulan terus berlangsung dalam hidup anaknya, sebab Tuhan pernah mengatakan: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu…, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Bagi Tuhan: Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yakobus 1:12).

Indah sekali janji Tuhan itu. Kita hanya harus berjuang agar mampu dan dimampukan untuk tetap bertahan di tengah kerasnya topan dan badai kehidupan. Berguru dan meniru teladan yang telah Yesus torehkan, bisa memberikan kekuatan. Oleh karena Ia (Yesus) sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia (Yesus) dapat menolong mereka yang dicobai (Ibrani 2:18). Lalu ketika semua kata tidak lagi cukup untuk memberikan jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan: “Kapan pergumulan ini berakhir, Tuhan..?”, mungkin doa “keheningan hati” (The serenity prayer) yang diajarkan Friedrich Oetinger (penginjil Jerman abad ke-18) bisa sedikit melegakan kita. Biarlah doa: “Tuhan, berikan aku ketabahan / keheningan hati untuk merubah hal-hal yang tidak mungkin kuubah, berikan aku keberanian untuk mengubah hal-hal yang masih bisa kuubah. Dan berikan padaku kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan di antara keduanya” menjadi doa kita. Doa ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah kecewa ketika pergumulan masih terus berlanjut, namun bukan pula mengajarkan kita untuk berharap keadaan akan berubah secara instan, karena kita juga diajarkan untuk memohon kepada Tuhan dengan rendah hati agar dikaruniakanNya kebijaksanaan membedakan kedua hal itu – mana yang memang sudah tidak mungkin diubah, dan mana yang masih membutuhkan pergumulan dan perjuangan kita untuk mengubahnya. Sehingga jawaban atas pertanyaan “Kapan pergumulan ini berakhir, Tuhan…..?” adalah: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkotbah 3:11)

Olien Sirait – Medan








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.